Select language

Sunday, October 18, 2015

Pura tempat pementasan tari Calonarang di Jembrana terkenal angker

Pura tempat pementasan tari Calonarang di Jembrana terkenal angker
Pura tempat pementasan tari Calonarang di Jembrana terkenal angker
Reporter : Gede Nadi Jaya
Dikutip dari Merdeka.com

Pura Sari Jati Luwih yang terletak di Kecamatan Mendoyo, Jembrana di Bali, terkenal sangat pingit (angker). Bahkan warga setempat tak berani untuk sesumbar apalagi berjanji memberi imbalan di pura ini saat sembahyang. Medan yang terjal dan mendaki, menambah suasana magis di lokasi pura yang berada di puncak Jati Luwih, Jembrana.

Di pura inilah I Komang Ngurah Trisna Para Merta (14), tewas usai pementasan Calonarang. Sebuah drama sakral yang mengisahkan peperangan antara dharma melawan adarma (kebaikan dan keburukan). Saat pentas, Merta yang memerankan tokoh Rangda ditusuk berulang kali oleh penari keris (nying) hingga tertembus dan robek pada bagian perut.

Pihak kepolisian di wilayah setempat menyebut hasil autopsi ada luka tusuk yang mengenai usus besar, dan diduga jadi penyebab kematian remaja putus sekolah asal Lingkungan Delod Bale Agung, Kelurahan Tegalcangkring, ini.

Pementasan Calonarang terjadi saat puncak upacara besar "Piodalan Ageng" di pura ini. 10 hari jelang upacara, panitia upacara mengaku sudah melarang digelarnya drama sakral calonarang. Alasannya, belum pernah menggelar tarian sakral tersebut di pura ini.

"Kami sudah wanti-wanti melarang kelompok itu untuk tampil di sini (Pura Sari Jati Luwih), dengan alasan tidak ada dana dan karena di pura ini angker. Tapi mereka tetap ngotot ingin tampil, katanya biar dapat ngayah (menyumbangkan suguhan dengan ihklas) tanpa dibayar," terang Ketut Sumantra, Ketua Panitia Piodalan Pura Sari Jati Luwih, Jumat (16/10) sore.

Bahkan dua hari sebelum puncak upacara, kelompok seni Calonarang tersebut melalui perwakilannya Mangku Astawa kembali menemui panitia karya untuk memastikan penampilan kelompok Calonarang tersebut. Pun saat itu, dirinya juga mengingatkan saat itu untuk tidak perlu menggelar tarian Calonarang di pura ini.

"Saat kedatangan kedua kalinya itu, kami juga kembali melarangnya. Tapi tetap mereka ngotot ingin tampil. Bahkan mereka bilang panitia tidak perlu menyiapkan dana, cukup menyediakan tempat saja katanya. Karena memaksa, terpaksa kami berikan mereka tampil dan mereka juga akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu," ujar Sumantra.

Dirinya bersama panitia lain mengaku sempat was-was saat mengiyakan, karena sebelum-sebelumnya setiap piodalan di pura tersebut belum pernah ada pementasan Calonarang. Apalagi sampai mengundang kelompok Calonarang dari luar desa, belum pernah dilakukan.

"Kami memang tidak berani untuk mementaskan Calonarang karena di pura ini tergolong sangat pingit, tapi karena kelompok itu bersikeras ingin tampil, terpaksa kami berikan dengan catatan mereka yang bertangung jawab jika teerjadi sesuatu," tuturnnya.

Saat terjadi insiden, mau tidak mau katanya krama (warga) setempat harus melaksanakan pecaruan di pura dan di sekitar pura untuk menghilangkan cuntaka (kekotoran). Rencananya pecaruan akan dilaksanakan segera setelah paruman (rapat) krama adat setempat.


"Lagi dua hari ini kami akan menggelar rapat membahas masalah pecaruan itu," pungkasnya.
Facebook Google+ Twitter
220 Shares

0 komentar:

Post a Comment