| Pura tempat pementasan tari Calonarang di Jembrana terkenal angker |
Reporter : Gede Nadi Jaya
Dikutip dari Merdeka.com
Pura Sari Jati Luwih yang terletak di Kecamatan Mendoyo,
Jembrana di Bali, terkenal sangat pingit (angker). Bahkan warga setempat tak
berani untuk sesumbar apalagi berjanji memberi imbalan di pura ini saat
sembahyang. Medan yang terjal dan mendaki, menambah suasana magis di lokasi
pura yang berada di puncak Jati Luwih, Jembrana.
Di pura inilah I Komang Ngurah Trisna Para Merta (14), tewas
usai pementasan Calonarang. Sebuah drama sakral yang mengisahkan peperangan
antara dharma melawan adarma (kebaikan dan keburukan). Saat pentas, Merta yang
memerankan tokoh Rangda ditusuk berulang kali oleh penari keris (nying) hingga
tertembus dan robek pada bagian perut.
Pihak kepolisian di wilayah setempat menyebut hasil autopsi
ada luka tusuk yang mengenai usus besar, dan diduga jadi penyebab kematian
remaja putus sekolah asal Lingkungan Delod Bale Agung, Kelurahan
Tegalcangkring, ini.
Pementasan Calonarang terjadi saat puncak upacara besar
"Piodalan Ageng" di pura ini. 10 hari jelang upacara, panitia upacara
mengaku sudah melarang digelarnya drama sakral calonarang. Alasannya, belum
pernah menggelar tarian sakral tersebut di pura ini.
"Kami sudah wanti-wanti melarang kelompok itu untuk
tampil di sini (Pura Sari Jati Luwih), dengan alasan tidak ada dana dan karena
di pura ini angker. Tapi mereka tetap ngotot ingin tampil, katanya biar dapat
ngayah (menyumbangkan suguhan dengan ihklas) tanpa dibayar," terang Ketut
Sumantra, Ketua Panitia Piodalan Pura Sari Jati Luwih, Jumat (16/10) sore.
Bahkan dua hari sebelum puncak upacara, kelompok seni
Calonarang tersebut melalui perwakilannya Mangku Astawa kembali menemui panitia
karya untuk memastikan penampilan kelompok Calonarang tersebut. Pun saat itu,
dirinya juga mengingatkan saat itu untuk tidak perlu menggelar tarian Calonarang
di pura ini.
"Saat kedatangan kedua kalinya itu, kami juga kembali
melarangnya. Tapi tetap mereka ngotot ingin tampil. Bahkan mereka bilang
panitia tidak perlu menyiapkan dana, cukup menyediakan tempat saja katanya.
Karena memaksa, terpaksa kami berikan mereka tampil dan mereka juga akan
bertanggung jawab jika terjadi sesuatu," ujar Sumantra.
Dirinya bersama panitia lain mengaku sempat was-was saat
mengiyakan, karena sebelum-sebelumnya setiap piodalan di pura tersebut belum
pernah ada pementasan Calonarang. Apalagi sampai mengundang kelompok Calonarang
dari luar desa, belum pernah dilakukan.
"Kami memang tidak berani untuk mementaskan Calonarang
karena di pura ini tergolong sangat pingit, tapi karena kelompok itu bersikeras
ingin tampil, terpaksa kami berikan dengan catatan mereka yang bertangung jawab
jika teerjadi sesuatu," tuturnnya.
Saat terjadi insiden, mau tidak mau katanya krama (warga)
setempat harus melaksanakan pecaruan di pura dan di sekitar pura untuk
menghilangkan cuntaka (kekotoran). Rencananya pecaruan akan dilaksanakan segera
setelah paruman (rapat) krama adat setempat.
"Lagi dua hari ini kami akan menggelar rapat membahas
masalah pecaruan itu," pungkasnya.






0 komentar:
Post a Comment